Minggu, 07 November 2010

SIAPA BILANG PENDEK ITU JELEK? [PART 7]



Latihan yang Melelahkan

“Bu, Yah, Nicky pergi dulu yah” Aku pamit dengan kedua orang tuaku, setelah selesai sarapan pagi “Iya hati-hati yah” Ucap Ibuku.
“Kak Nicky bareng donk” Pinta Fitri
“Ya udah cepetan, Kak Nicky bentar lagi telat loh”
“Heeh...” Fitri menghabiskan makanannya dengan cepat dan lalu pamit pada kedua orang tuaku, aku menunggu Fitri di depan pagar. “Yuk Kak” Ajak Fitri yang sudah siap. Kami pun berjalan berbarengan menuju sekolah.
“Fitri sekarang seneng deh ngeliat Kak Nicky” Guman Fitri.
“Kenapa?”
“Kak Nicky sekarang udah lebih tinggi dari sebelumnya, dulu Fitri sehidung Kak Nicky, sekarang jadi sedagu Kak Nicky, berarti Kak Nicky tambah tinggi” Ucap Fitri lagi. Aku hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Fitri “Aahh…Kak Nicky, kan jadi berantakan” Fitri memperbaiki Rambutnya yang acak-acakan.
“Nicky!!!”
Aku dan Fitri menoleh ke belakang. Dari kejauhan aku melihat Evan berlari ke arahku “Hello Bro” Aku menyambut kedatangan Evan, Kami bersalaman dengan ciri khas kami berdua.
“Hey Fit, apa kabar?” Sapa Evan pada Fitri “Tambah cantik aja kamu” Pujinya. Fitri hanya tersipu malu. Kami pun berjalan bertiga.
“Nick, Thanks yah, lo bener-bener temen gue” Evan memukul pundakku, aku kaget dan menahan sakit
“Maksud lo?” Tanyaku
“Gue udah baikan sama Amy dan itu karena elo, Thanks banget yah” Ujar Evan gembira. “Bagus deh, gue juga ikut seneng dengernya, dan inget lo harus lebih perhatiin Amy, jangan kayak kemaren” Tanggapku.
“Ok Bro, gimana hubungan lo sama Grina lancar?” Celetuk Evan. Fitri menoleh, Aku segera membungkam mulut Evan dan menatapnya marah.
“Ok…ok…sorry gue keceplosan” Evan melepaskan tanganku.
“Grina itu siapa Kak?” Tanya Fitri penasaran. Aku dan Evan hanya tersenyum masam. Aku menyikut tangan Evan dengan keras.
“Bukan siapa-siapa” Jawabku gugup. Terlihat wajah tak percaya dari Fitri tapi aku cuek. Aku pun berpisah dengan Fitri ketika Fitri sampai di sekolahnya. Sekolah Fitri tidak jauh dari sekolahku.
“Hampir aja Fitri tahu, kalau dia tahu bisa gawat, dia kan Ember” Bentakku
Sorry deh”
Aku dan Evan pun berpisah di depan kelas Evan. Aku berjalan ke kelasku dengan perasaan senang. Tak sengaja aku menabrak seseorang.
“Ahg…”
“Eh Sorry nggak…” Perkataanku terhenti tiba-tiba setelah melihat orang yang kutabrak “Maaf aku nggak sengaja” Ulangku
“Nggak apa-apa kok” Jawab Grina lembut sambil tersenyum. Mimpi apa aku kemarin, Grina tersenyum di depanku.
“Grin…” Tegur Rendi menghampiriku dan Grina. Rendi menatapku tajam “Aku pergi dulu, sorry” Aku memisahkan diri dan berjalan ke kelas sambil menunduk. Biginilah kalau jadi Secret Admire.

~*~

“Hey oper bolanya ke gue, bego” Teriak Rendi padaku. Sekarang aku sedang latihan basket, dan kami sekarang sedang bertanding, sialnya aku satu grup dengan Rendi.
Aku kesal selalu dikatai Bego olehnya, aku tak menghiraukan ucapannya aku mengoper bola ke arah Yoyo yang berdiri tidak jauh dari Rendi. Yoyo berlari menguasai bola dan melompat memasukkan Bola dan Masuk.
Aku dan Yoyo adu Tos. Tiba-tiba Rendi mendorongku, aku menatapnya heran “Maksud lo apa, ngoper bola ke Yoyo, bukan ke gue Hah?”
“Gue hanya bermain seperti biasanya, gue mengoper ke Yoyo karena Yoyo lebih berpeluang buat masukin bola” jawabku santai.
“Jadi lo anggap gue nggak bisa masukin bola” Gertak Rendi
“Gue nggak bilang gitu, gue Cuma…Agh…” Rendi menyambar ucapanku dengan satu pukulan di pipiku. Aku tersungkur, darah segar mengalir di bibirku. Sakit sekali rasanya.
“Rasain Lo, mau gue tambah?” Rendi siap memukulku lagi.
“Ren, sudah, Ren…lo apa-apaan sih, main sembarangan pukul” Tonny melerai kami, Aku berdiri dengan dibantu oleh Yoyo. “Lo kenapa harus pakai acara pukul-pukulan segala sih Ren, ini kan cuma permainan” Tukas Tonny.
“Sudahlah Ton, gue nggak apa-apa kok” Ucapku sambil memijit-mijit pipiku yang sedikit memar.
“Ya udah, gue ada berita yang lebih penting kita bakal ikut pertandingan antar sekolah tiga minggu lagi, jadi latihan kita lebih serius, gue bakal nentuin yang bakal jadi pemain inti. Gue, Rendi, Rico, Yoyo, sudah pasti jadi pemain inti kita masih butuh satu orang lagi. Gue sama Pak Wawan bakal adakan Test buat kalian yang belum terpilih dua minggu lagi, juga buat pemain cadangannya, dan bagi yang terpilih bakal latihan penuh selama satu minggu” Jelas Tonny panjang lebar.
Ini dia kesempatanku untuk mewujudkan impianku selama ini. Aku akan berusaha agar bisa masuk ke Pemain inti. “Ayo kita latihan” Komando Tonny. Yang lainnya pun bersemangat latihan.
Kami berlatih mempassing, mendribel, melakukan Shoot, dan melakukan lay up. Kami sangat bersemangat latihan untuk pertandingan tiga minggu lagi.
Langit pun mulai gelap dan latihan hari ini pun selesai “Woi aku pulang yah” Teriak Yoyo dan anak basket lainnya. Aku masih mencoba memasukan bola ke ring. “Nick, gue duluan yah, Oh iya lo harus ikut test gue yakin lo pasti bisa” Tonny menyemangatiku.
Thanks…”
“Ok gue pulang dulu, bye” Tonny pergi meninggalkanku. Sekarang di lapangan hanya tinggal ada aku. Aku mendribel bola mengelilingi lapangan dan mencoba melakukan lay up berkali-kali.
Sudah hampir tujuh kali aku mengelilingi lapangan, nafasku mulai terengah-engah Aku melempar bola ke arah ring, Bola terpantul keras di papan dan jatuh. Aku terjatuh dan tergeletak di tengah-tengah lapangan. Aku memandang bintang yang terang malam ini. Ku pegang pipiku yang sedikit memar.
Aku bangun dan membereskan barang-barangku lalu berjalan ke luar sekolah. Aku berjalan dengan lemas menuju rumah. Sampai di rumah aku langsung mandi, makan malam lalu tidur, untung saja keluargaku tidak menanyakan tentang pipiku ini.  Hari ini benar-benar melelahkan. 


TO BE CONTINUE PART 8
    AUTHOR: AI CHAN KAWAII
    credit: duniaceritafiksi.blogspot.com
PLEASE DO NOT REPOST!!! 

2 komentar:

CHAT WITH AUTHOR